Ketika kita mendengan sebuah kata yaitu “Konflik” maka yang terbanyang
dalam pikiran kita adalah adanya perbedaan pendapat/persepsi dan visi antara
satu pihak dengan pihak lainnya. Konflik timbul ketika kita merasa bahwa pendapat/persepsi
dan visi yang kita miliki adalah yang benar dibandingkan dengan yang lainnya. Padahal
kalau kita telaah kebelakang persepsi/pendapat dan visi yang ada dalam pikiran
kita terbentuk dari sebuah pengalaman yang telah kita lalui maupun pengalaman
orang lain yang kita ketahui baik itu dari segi pendidikan pelatihan ataupun
kejadian yang pernah terjadi dalam kehidupan kita maupun orang lain. Apabila kita
mencoba untuk berpikir rasional bahwa pihak yang berkonflik dengan kita adalah
seorang manusia yang juga memiliki punya pengalaman, sama dengan yang kita kita
miliki mungkin kita bisa meredam sedikit rasa ego kita (cerdas secara
emosional) untuk mencoba mengerti mengapa pihak tersebut memiliki pendapat/persepsi
serta visi yang berbeda dengan kita. Soo… Marilah kita semua mencoba untuk
cerdas secara emosional dalam segala hal.. Tetap Semangat…
Muhammad Rasyid Abdillah
Minggu, 29 Juli 2012
Selasa, 17 Juli 2012
KOMPENSASI YANG ADIL
BAB I
PENDAHULUAN
Kompensasi merupakan segala sesuatu yang diterima para karyawan sebagai
balas jasa untuk kerja mereka (Handoko, 2008:155). Kompensasi merupakan
pertimbangan utama dalam manajemen sumber daya manusia, karena dengan
kompensasi, karyawan diberikan hadiah yang nyata untuk layanan yang mereka
berikan, serta sebagai sumber pengakuan dan mata pencaharian (Bohlander,
2004:386). Secara umum kompensasi dapat
dibedakan menjadi dua kategori yaitu kompensasi finansial dan non finansial.
Kompensasi finansial terdiri dari kompensasi langsung dan tidak langsung.
Kompensasi langsung terdiri dari upah, gaji, bonus, atau komisi. Kompensasi
tidak langsung terdiri dari semua pembayaran yang tidak tercakup dalam
kompensasi finansial langsung seperti liburan, berbagai macam asuransi, jasa
perawatan anak atau kepedulian keagamaan, dan sebagainya (Rivai, 2009:741).
Sementara itu kompensasi non finansial meliputi program pengakuan karyawan,
pekerjaan yang bermanfaat, dukungan organisasi, lingkungan kerja dan jam kerja
yang fleksibel untuk mengakomodasi kebutuhan pribadi (Bohlander, 2004:386).
Program kompensasi yang efektif dalam
sebuah organisasi memiliki empat tujuan (Mathis, 2011) :
1) Kepatuhan pada hukum dan peraturan yang
berlaku
2) Efektivitas biaya bagi organisasi
3) Keadilan Internal, eksternal, dan
individual bagi para karyawan
4) Peningkatan
kinerja organisasi.
Pemberian kompensasi
dalam suatu organisasi harus diatur sedemikian rupa sehingga merupakan sistem
yang baik dalam organisasi (Notoatmodjo, 2009). Keadilan dalam pembayaran
kompensasi sangat berhubungan erat dengan kepuasan kerja karyawan. Dengan
keadilan pembayaran kompensasi pegawai akan merasa cukup dihargai sehingga hal
tersebut dapat membuat pegawai cenderung bekerja lebih baik (Jackson, 2011:113).
Keadilan dalam
pemberian kompensasi, baik itu gaji/upah, bonus, insentif, dan lain-lain dapat
menimbulkan persepsi bisa membuat organisasi berjalan dengan baik. Begitu juga
dengan sebaliknya organisasi/perusahaan dapat berjalan tidak baik apabila
karyawan dalam perusahaan tersebut tidak memberikan kompensasi secara adil. Hal tersebut dapat
dilihat dengan adanya persepsi tentang perbedaan karyawan dalam memandang suatu
pekerjaan. Sehingga ada istilah “posisi basah dan kering”. Padahal dalam sebuah
organisasi setiap pekerjaan adalah penting karena apabila dalam suatu
organisasi ada satu pekerjaan/jabatan tidak berjalan dengan baik maka kegiatan
dalam organisasi./perusahaan akan terganggu.
Pemberian kompensasi
dalam perusahaan atau organisasi juga sangat bergantung terhadap keuntungan
yang diperoleh oleh perusahaan tersebut. Terutama dalam hal pemberian
bonus/insentif. Insentif adalah bentuk pembayaran yang dikaitkan dengan kinerja
atau gainsharing, sebagai pembagian keuntungan bagi karyawan akibat peningkatan
produktivitas atau penghematan biaya (Rivai, 2009:767). Hal tersebut yang
membuat perusahaan harus berhati-hati dalam menentukan besar kecilnya pemberian
insentif dalam perusahaan agar pemberian tersebut terlihat adil dan tidak
menimbulkan persepsi yang tidak baik.
Dari penjelasan
tersebut diatas maka timbul beberapa pertanyaan yang harus dibahas, yaitu : Bagaimanakah
cara memberikan penghargaan/bonus kepada masing-masing kelompok jabatan, bila
jumlah yang akan dibagikan sangat terbatas. Manakah yang didahulukan? Apakah
nantinya tidak timbul rasa ”ketidak adilan” ? Lalu, bagaimanakah anda
menggerakkan mereka semua?
BAB
II
PEMBAHASAN
Pemberian insentif dengan cara adil merupakan daya penggerak yang dapat
merangngsang terciptanya pemeliharaan karyawan. Karena dengan pemberian
insentif karyawan merasa mendapat pengakuan dan perhatian terhadap prestasi
yang dicapainya, sehingga semangat kerja dan sikap loyal karyawan akan lebih
baik (Sujatmoko, 2007:8-9). Insentif merupakan sarana motivasi yang mendorong
para pegawai untuk bekerja dengan kemampuan maksimum. Kompensasi dan insentif
mempunyai hubungan yang erat, dimana insentif merupakan salah satu bagian dari
kompensasi. Tujuan utama dari pemberian insentif adalah untuk memberikan
tanggung jawab dan dorongan kepada karyawan dalam rangka meningkatkan kualitas
dn kuantitas hasil kerja (Rivai, 2009:767).
Insentif sendiri didefinisikan sebagai salah satu bentuk rangsangan atau
motivasi yang sengaja diberikan kepada pegawai untuk mendorong semangat kerja
pegawai agar mereka bekerja lebih produktif lagi, meningkatkan prestasinya
dalam mencapai tujuan perusahaan (Sujatmoko, 2007:9). Pada dasarnya terdapat
dua jenis insentif yang umum diberikan oleh perusahaan, seperti yang diuraikan
oleh Sarwoto dalam Sujatmoko (2007:9-10) yaitu :
1) Insentif
finansial
Insentif financial merupakan insentif yang diberikan kepada karyawan atas hasil
kerja mereka dan biasanya diberikan dalam bentuk uang berupa bonus, komisi,
pembagian laba, dan kompensasi yang ditangguhkan, serta dalam bentuk jaminan
sosial, berupa pemberian rumah dinas, tunjangan lembur, tunjangan kesehatan,
dan tunjangan-tunjangan lainnya.
2) Insentif
non finansial
Insentif non finansial dapat diberikan dalam berbagai
bentuk, antara lain :
a) Pemberian
piagam penghargaan
b) Pemberian
pujian lisan ataupun tertulis, secara resmi ataupun pribadi
c) Ucapan
terima kasih secara formal maupun informal
d) Promosi
jabatan kepada karyawan yang baik selama masa tertentu serta dianggap mampu
e) Pemberian
tanda jasa/medali kepada karyawan yang telah mencapai masa kerja yang cukup
lama dan mempunyai loyalitas yang tinggi
f) Pemberian
hak untuk menggunakan suatu atribut (misalnya mobil atau sebagainya)
g) Pemberian perlengkapan khusus pada ruangan
kerja.
Pembayaran insentif biasanya dilakukan dengan tiga cara : insentif
individu, insentif tim, bagi hasil dan pembagian keuntungan. Insentif individu
adalah salah satu bentuk pembayaran insentif yang paling tua dan paling
popular. Pemberian insentif individu dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu
(Jackson,2011:194) :
1) Pemberian
insentif berdasarkan hasil, pemberian insentif berdasarkan hasil dapat
dilakukan dengan dua cara :
a) Straigh piecework, para pegawai
diberikan jaminan untuk menerima angka insentif standar untuk setiap unit.
Angka insentif standar didasarkan pada hasil kerja standard dan angka insentif
dasar. Misalnya, jika gaji pokok suatu pekerjaan adalah $ 80 per hari dan
seorang pegawai wajarnya memproduksi 20 unit per harinya, maka standar angka
dapat ditentukan pada $ 4 per unit.
b) Differential
piece rate, lebih dari satu angka upah hasil kerja ditentukan bagi pekerjaan
yang sama. Angka-angka hasil kerja yang berbeda biasanya dirancang untuk
memberikan insentif terhadap hasil kerja yang melampaui tingkat permulaan yang
telah ditetapkan. Misalnya, para pegawai dapat memperoleh $ 4 per hasil kerja
dengan menghasilkan lima atau lebih hasil kerja per jamnya. Jika pegawai hanya
mampu menyelesaikan empat hasil kerja per jamnya maka pegawai tersebut hanya
menerima insentif sebesar $ 3,50.
2) Pemberian
insentif berdasarkan waktu kerja, yaitu menentukan waktu standar untuk setiap
unit produksi dan menggunakan waktu standar ini untuk menentukan besarnya
insentif yang akan diberikan kepada pegawai.
Tugas dibagi berdasarkan lamanya waktu yang dihabiskan untuk mengerjakan
tugas tersebut yang dapat ditentukan oleh catatan pekerjaan, analisis kerja
atau keduanya. Waktu yang wajar dalam mengerjakan setiap tugas akan dijadikan
waktu standar. Para pegawai dibayar atas waktu yang wajar dibutuhkan untuk
menyelesaikan suatu tugas, dan bukan waktu yang sebenarnya digunakan.
Dengan
pendekatan ini, standar kinerja individu ditentukan dan diinformasikan dari
awal, serta penghargaan didasarkan pada hasil kinerja individu (Jackson,
2011:192). Didalam memberikan insentif tersebut dilakukan pengukuran kinerja
yang meliputi, pengukuran produksi, penjualan, kualitas, pelayanan pelanggan
dan inovasi. Pengukuran tersebut dilakukan berdasarkan jenis pekerjaan.
Dengan pemberian insentif berdasarkan pengukuran kinerja maka perusahaan
berusaha melakukan pembayaran insentif secara adil karena pemberian insentif
didasarkan atas hasil kinerja inidvidu yang telah diberikan oleh pegawai. Karena
banyak sedikitnya insentif yang akan dibayarkan tergantung pada kinerja pegawai
tersebut. Apabila kinerja pegawai baik maka bisa saja dalam satu departemen
antara pegawai yang satu dengan yang lain mendapatkan insentif yang berbeda
karena hasil kerja yang satu berbeda dengan yang lain. Hal tersebut juga bisa dapat
memebrikan dorngan atau motivasi terhadap pegawai dalam melakukan pekerjaan. Dengan
termotivasinya pegawai dalam melaksanakan pekerjaan maka produktivitas
organisasi akan meningkat dan selanjutnya akan meningkatkan kinerja perusahaan
secara keseluruhan.
BAB
III
PENUTUP
Kompensasi merupakan pertimbangan utama dalam manajemen sumber daya
manusia, karena dengan kompensasi, karyawan diberikan hadiah yang nyata untuk
layanan yang mereka berikan, serta sebagai sumber pengakuan dan mata
pencaharian (Bohlander, 2004:386). Pemberian insentif merupakan salah satu
komponen dari kompensasi. Pemberian insentif sendiri bertujuan agar dapat
mendorong motivasi pegawai dalam melaksanakan pekerjaan agar pekerjaan tersebut
dapat dilaksankan dengan maksimal. Agar terdistribusi dengan baik maka insentif
yang diberikan oleh perusahaan kepada pegawai harus bersifat adil. Salah satu
cara agar pemberian insentif dapat berjalan secara adil dapat dilakukan dengan
cara pemberian insentif berdasarkan kinerja individu, karena pemberian insentif
tersebut diberikan berdasarkan kualitas maupun kuantitas hasil kerja yang
pegawai kerjakan. Hal tersebut sesuai dengan konsep keadilan (equity) menurut
Mathis (2011:430) yaitu keadilan yang dirasa berasal apa yang dilakukan
seseorang (input) dan apa yang
diterima oleh orang tersebut (output).
Daftar Pustaka
Bohlander, George & Scott Snell, 2004, Managing Human Resouces 13e,
South-Western : Thomson Corporation.
Handoko, T. Hani, 2008, Manajemen Personalia & Sumber Daya Manusia, Yogyakarta : BPFE.
Jackson, Susan E, Randall S. Schuler, Steve Werner,
2011, Pengelolaan Sumber Daya Manusia,
Edisi Kesepuluh (Terjemahan), Salemba Empat, Jakarta.
Notoatmodjo, Soekidjo, 2009, Pengembangan Sumber Daya Manusia, Rineka Cipta, Jakarta.
Rivai, Veithzal, Ella Jauvani Sagala, 2009, Manajemen Sumber Daya Manusia untuk
Perusahaan : Dari Teori ke Praktek, Jakarta : Rajawali Pers.
Sujatmoko, Koko, 2007, Pengaruh Insentif Terhadap Peningkatan Prestasi Kerja Karyawan Pada
Departemen Operasional Pemasaran Dunkin Donuts Cabang Arteri Jakarta, Karya
Ilmiah : USU Medan.
Rabu, 30 Mei 2012
Pemasaran dalam Bisnis Indonesia
A. Pendahuluan
Menciptakan
nilai tambah yang baru terhadap barang dan jasa dalam dunia usaha merupakan hal
yang mendasar dalam membahas masalah globalisasi pada saat sekarang ini.
Perkembangan teknologi maupun industri membawa dampak bagi kehidupan manusia
terutama dunia usaha yang ada di Indonesia. Disamping itu banyaknya usaha yang
bermunculan baik perusahaan kecil maupun besar berdampak pada persaingan yang
ketat antar perusahaan baik yang sejenis maupun yang tidak sejenis. Oleh sebab
itu pemasaran merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan dalam mengahadapi
persaingan, pengembangan usaha dan untuk mendapatkan laba, sehingga perusahaan
dapat mengembangkan produknya, menetapkan harga, mengadakan promosi dan
mendistribusikan barang dengan efektif.
Memahami dan
menganalisis perilaku konsumen secara tepat dan benar merupakan salah satu
kesulitan perusahaan dalam memonitor, mengingat banyaknya faktor yang
mempengaruhi perilaku konsumen dan adanya perbedaan perilaku untuk
masing-masing individu. Dengan demikian perusahaan dituntut untuk dapat
memantau perubahan-perubahan perilaku konsumennya, termasuk perilaku konsumen
dalam memilih produk melalui kegiatan pemasaran yang efektif.
Pemasaran umumnya dilihat
sebagai tugas menciptakan, mempromosikan, serta menyerahkan barang dan jasa
kepada konsumen. Secara sederhana
pemasaran diartikan sebagai proses mengelola hubungan dengan pelanggan yang
dapat menguntungkan (Kotler, 2008:5). Pemasaran
merupakan inti dari seluruh aktifitas bisnis, karena pemasaran merupakan
penghubung antara perusahaan dan konsumen. Kotler (2008:5) mengatakan bahwa sasaran
dalam pemasaran adalah menarik pelanggan baru dengan menjanjikan keunggulan
nilai serta menjaga dan menumbuhkan pelanggan yang ada dengan memberikan
kepuasan. Pemasaran memiliki tujuan untuk menciptakan
nilai bagi pelanggan dan menangkap kembali nilai dari pelanggan (Kotler,
2008:2). Sehingga secara umum dapat
disimpulkan bahwa pemasaran bertujuan menjalin
dan mengembangkan hubungan dengan pelanggan untuk jangka panjang sehingga
masing-masing pihak dapat terpenuhi.
B. Defenisi
Pemasaran
Pemasaran
merupakan bagian dari kegiatan perusahaan yang sangat besar peranannya dalam
kelangsungan hidup suatu perusahaan. Baik produk maupun jasa dalam
pendistribusiannya sampai ketangan konsumen tidak terlepas dari kegiatan
pemasaran yang telah diatur sedemikian rupa oleh suatu perusahaan. Dalam
praktek sehari-hari sering orang menyamakan antara kegiatan pemasaran dengan
penjualan, namun sebenarnya kedua aktifitas tersebut mempunyai perbedaan yang
cukup besar.
Penjualan adalah ilmu dan seni
mempengaruhi orang lain/konsumen melalui tenaga penjual agar konsumen melalui
tenaga penjual agar konsumen tersebut bersedia membeli produk yang
ditawarkannya (Swastha, 2002:7). Sedangkan pemasaran merupakan proses dimana perusahaan menciptakan nilai bagi
pelanggan dan membangun hubungan yang kuat dengan pelanggan, dengan tujuan
menangkap nilai dari pelanggan sebagi imbalannya (Kotler, 2008:6).
Asosiasi Pemasaran Amerika juga mengartikan pemasaran sebagai
satu fungsi organisasi dan seperangkat proses untuk menciptakan,
mengkomunikasikan, dan menyerahkan nilai kepada pelanggan dan mengelola
hubungan pelanggan dengan cara yang menguntungkan organisasi dan para pemilik
sahamnya (Kotler, 2008:6). Selanjutnya Assauri (2010:5) juga mendefenisikan
pemasaran sebagai kegiatan manusia yang diarahkan untuk memenuhi dan memuaskan
kebutuhan melalui proses pertukaran.
Sehingga jika dilihat dari dua pengertian diatas, maka
dapat disimpulkan bahwa menjual memusatkan perhatian pada kebutuhan penjual,
sedangkan pemasaran pada kebutuhan pembeli (konsumen). Menjual terutama
meningkatkan kebutuhan penjual untuk menukarkan produknya menjadi uang tunai,
sedangkan pemasaran mementingkan gagasan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan
dengan produk dan segala yang berkaitan dengan menciptakan, memeberikan serta
akhirnya menggunakan produk tersebut.
C. Proses
Pemasaran
Secara sederhana proses pemasaran dapat
dibedakan melalui lima tahap, yaitu :
1. Memahami pasar
dan kebutuhan pelanggan.
2. Merancang
strategi pemasaran yang digerakkan oleh pelanggan.
3. Membangun
program pemasaran terintegrasi yang memberikan nilai yang unggul.
4. Membangun
hubungan yang menguntungkan dan menciptakan kepuasan pelanggan.
5. Menangkap nilai
dari pelanggan untuk menciptakan keuntungan dan ekuitas pelanggan.
D. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemasaran
Pada tahap permulaan, pemasar dapat
memperoleh suatu pengertian yang jelas tentang konsumen melalui pengalaman
sehari-hari pada waktu menjual produk kepada konsumen. Namun setelah perusahaan
dan pasar semakin besar hilanglah peluang para pembuat keputusan pemasar untuk
berhubungan langsung dengan para pelanggannya. Dalam tahap selanjutnya, para
manajer berpaling pada kegiatan penelitian mengenai konsumen. Mereka mengeluarkan
biaya yang lebih besar untuk mempelajari konsumen dalam upaya untuk mengetahui
perilaku konsumen tersebut.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi
pemasaran suatu perusahaan, daintaranya : (Blackwell dan Minar, 2003 dalam
Hadait, 2011:9)
1. Karakter
pembeli
2. Kondisi dan
kemampuan penjual
3. Kondisi pasar
4. Modal
5. Kondisi
organisasi perusahaan
6. Persaingan
7. Faktor-faktor
lain yang mempengaruhi penjualan, baik ekstern (diluar perusahaan) maupun
intern (didalam perusahaan)
E. Strategi
Pemasaran
Agar suatu perusahaan dapat berhasil
memasarkan produknya kepada konsumen, perusahaan perlu memahami perilaku
konsumen dalam melakukan pembelian. Pemahaman terhadap perilaku konsumen
merupakan salah satu cara untuk mengetahui adanya berbagai masalah yang ada
pada konsumen yang berkaitan dengan pemasaran produk. Untuk itu dibutuhkan
strategi yang baik dalam bidang pemasaran untuk dapat melihat dan menggunakan
kesempatan atau peluang yang ada dalam pemasaran, sehingga posisi atau
kedudukan perusahaan dipasar dapat
dipertahankan dan sekaligus ditingkatkan.
Strategi pemasaran pada dasarnya adalah
rencana yang menyeluruh, terpadu dan menyatu dibidang pemasaran yang memberikan
panduan tentang kegiatan yang akan dijalankan untuk dapat tercapainya tujuan suatu
perusahaan. Dengan kata lain pemasaran adalah serangkaian tujuan dan sasaran,
kebijakan serta aturan yang memberikan arah kepada usaha-usaha pemasaran dari
waktu ke waktu pada masing-masing tingkatan serta lokasinya (Assauri, 2010:168).
Kotler (2008:58) juga mendefenisikan
strategi pemasaran (marketing strategy) sebagai logika pemasaran di mana unti
bisnis berharap untuk menciptakan nilai pelanggan dan mencapai hubungan yang
menguntungkan. Perusahaan memutuskan pelanggan mana yang akan dilayaninya
(segmentasi dan penetapan target) dan bagaimana perusahaan melayaninya
(diferensiasi dan positioning).
Dipandu oleh strategi pemasaran, perusahaan merancang bauran pemasaran (marketing mix) yang terdiri dari produk
(product), harga (price), tempat (place), promosi (promotion).
1. Segmentasi
Pasar (Segmenting)
Segmentasi pasar adalah proses pembagian pasar menjadi
kelompok pembeli berbeda yang mempunyai kebutuhan , karakteristik, atau
perilaku yang berbeda dan yang mungkin memerlukan produk atau program pemasaran
terpisah (Kotler, 2008:59). Pasar terdiri dari banyak tipe pelanggan, produk,
dan kebutuhan. Pemasar harus menentukan segmen mana yang menawarkan peluang
terbaik. Konsumen dapat dikelompokkan dan dilayani dalam berbagai cara
berdasarkan faktor geografis, demografis, psikografis dan perilaku.
1) Segmentasi
Geografik
Segmentasi
geografik membagi pasar menjadi beberapa unit secara geografik seperti negara,
regional, propinsi, kota, wilayah kecamatan, wilayah kelurahan dan kompleks
perumahan. Sebuah perusahaan mungkin memutuskan untuk beroperasi dalam satu
atau beberapa wilayah geografik ini atau beroperasi di semua wilayah tetapi
tidak memperhatikan kebutuhan dan keinginan psikologis konsumen. Banyak
perusahaan dewasa ini merigionalkan program pemasaran produknya dengan
melokalkan produk, iklan, promosi, dan usaha penjualan agar sesuai dengan
kebutuhan masing-masing regional, kota, bahkan kompleks perumahan.
2) Segmentasi
Demografi
Segmentasi pasar demografik membagi pasar
menjadi kelompok berdasarkan pada variabel seperti jenis kelamin, umur, status
perkawinan, jumlah keluarga, umur anak, pendapatan, jabatan, lokasi geografi,
mobilitas, kepemilikan rumah, pendidikan, agama, ras atau kebangsaan.
Faktor-faktor demografik ini merupakan dasar paling populer untuk membuat
segmen kelompok konsumen. Alasannya utamanya, yakni kebutuhan konsumen,
keinginan, dan mudah diukur. Bahkan, kalau segmen pasar mula-mula ditentukan
menggunakan dasar lain, maka karakteristik demografik pasti diketahui agar
mengetahui besar pasar sasaran dan untuk menjangkau secara efisien.
3) Segmentasi
Psikografik
Segmentasi
psikografik membagi pembeli menjadi kelompok berbeda berdasarkan pada
karakteristik kelas sosial, gaya hidup atau kepribadian. Dalam kelompok
domografik, orang yang berbeda dapat mempunyai ciri psikografik yang berbeda.
a) Kelas Sosial
Kelas
sosial ternyata mempunyai pengaruh kuat pada pemilihan jenis mobil, pakaian,
perabot rumah tangga, properti, dan rumah. Pemasar menggunakan variabel kelas
sosial sebagai segmentasi pasar mereka.
b) Gaya Hidup
Minat
manusia dalam berbagai barang dipengaruhi oleh gaya hidupnya, dan barang yang
mereka beli mencerminkan gaya hidup tersebut. Atas dasar itu, banyak pemasar
atau produsen yang mensegmentasi pasarnya berdasarkan gaya hidup konsumennya.
c) Kepribadian
Para
pemasar juga menggunakan variabel kepribadian untuk mensegmentasi pasar,
memberikan kepribadian produk mereka yang berkaitan dengan kepribadian
konsumen.
4) Segmentasi
Perilaku
Segmentasi
perilaku mengelompokkan pembeli berdasarkan pada pengetahuan, sikap, penggunaan
atau reaksi mereka terhadap suatu produk. Banyak pemasar meyakini bahwa
variabel tingkah laku merupakan awal paling baik untuk membentuk segmen pasar.
2. Penetapan
Target Pasar (Targeting)
Penetapan target pasar merupakan proses mengevaluasi daya
tarik masing-masing segmen pasar dan memilih satu atau lebih jumlah segmen yang
dimasuki (Kotler, 2008:59). Perusahaan harus menargetkan daya tarik segmen
dimana perusahaan dapat menghasilkan nilai pelanggan terbesar dan
mempertahankannya sepanjang waktu. Dalam
menetapkan sasaran pasar (target pasar), perusahaan terlebih dulu harus
melakukan segmentasi pasar, dengan cara mengelompokkan konsumen (pembeli) ke
dalam kelompok dengan ciri-ciri (sifat) yang hampir sama. Setiap kelompok
konsumen dapat dipilih sebagai target pasar yang akan dicapai.
Perusahaan dalam mengevaluasi berbagai segmen pasar harus memperhatikan
tiga faktor, yaitu : (Maryati, 2001:168)
1. Ukuran dan pertumbuhan segmen
2. Daya tarik struktural segmen
3. Sasaran dan sumber daya perusahaan.
3. Positioning
Positioning adalah pengaturan suatu produk untuk
menduduki tempat yang jelas, berbeda, dan diinginkan relatif terhadap produk
pesaing dalam pikiran konsumen (Kotler, 2008:61).
Menurut Al Ries dan Trout dalam Lupiyoadi (2009:58) positioning tidak hanya menyangkut apa yang dilakukan terhadap
produk (barang dan jasa) tetapi apa yang kita (pemasar) lakukan terhadap
pikiran atau benak konsumen. Tujuan dilakukannya positioning ini adalah untuk membedakan persepsi terhadap
perusahaan berikut produk dan jasa dari para pesaing.
F. Taktik
Pemasaran
Setelah memutuskan seluruh strategi
pemasarannya , perusahaan siap untuk mulai merencanakan rincian bauran
pemasaran. Bauran pemasaran (marketing
mix) adalah kumpulan alat pemasar taktis terkendali yang dipadukan
perusahaan untuk menghasilkan respon yang diinginkannya di pasar sasaran
(Kotler, 2008:62). Bauran pemasaran
terdiri dari semua hal yang dapat dilakukan perusahaan untuk mempengaruhi
permintaan produk atau jasa. Berbagai kemungkinan tersebut dapat dikelompokkan
menjadi empat kelompok variabel yang biasa disebut “4P” : Product (Produk), Price
(Harga), Place (Tempat), Promotion (Promosi).
1. Product (Produk)
Kebijaksanaan mengenai produk yang
meliputi barang/jasa yang akan ditawarkan perusahaan. Pelayanan khusus yang
ditawarkan perusahaan guna mendukung penjualan barang/jasa dan bentuk
barang/jasa yang ditawarkan merupakan elemen penting. Dimana dengan produk
inilah perusahaan berusaha untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan dari
konsumen. Produk adalah kombinasi barang dan jasa yang ditawarkan perusahaan
kepada pasar sasaran (Kotler, 2008:62). Assauri (2010:200) juga mendefinisikan produk
sebagai segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepada pasar untuk mendapat
perhatian, dimiliki, digunakan, atau dikonsumsi yang meliputi barang secara
fisik, jasa, kepribadian, tempat, organisasi dan gagasan atau buah pikiran
2. Price (Harga)
Setiap perusahaan selalu mengejar
keuntungan guna keseimbangan produksi, keuntungan yang diperoleh ditentukan
pada penempatan harga yang ditawarkan. Penetapan harga suatu produk ditentukan
oleh besarnya pengorbanan yang diperoleh untuk menghasilkan laba/keuntungan
yang diharapkan (Swastha, 2001:146). Harga adalah jumlah uang yang harus
dibayarkan pelanggan untuk memperoleh produk (Kotler, 2008:63). Pada penentuan
harga ada beberapa metode perumusan yang harus dipedomani : (Radionsu, 2002:50)
1) Berdasarkan orientasi
pada laba
Yaitu penetapan harga jual atas dasar biaya-biaya yang dikeluarkan utnuk
memproduksi suatu produk sehingga produk tersebut sampai ketangan konsumen.
2) Berdasarkan
orientasi terhadap permintaan
Yaitu menetapkan harga jual yang tinggi apabila ada permintaan kuat dan
menetapkan harga rendah apabila permintaan rendah.
3) Berdasarkan
orientasi atas tarif (harga) saingan
Yaitu menerapkan tarif (harga) jual terlebih dahulu dengan memperhatikan
tingkat tarif para pesaing. Selanjutnya tarif jual dapat ditetapkan dalam
bentuk setingkat dengan tarif (harga) pesaing, dibawah tarif (harga) pesaing,
dan diatas tarif (harga) pesaing.
3. Place (Tempat)
Tempat meliputi kegiatan perusahaan
yang membuat produk tersedia bagi pelanggan sasaran (Kotler, 2008:63).
4. Promotion (Promosi)
Promosi merupakan salah satu variabel
dalam marketing mix yang sangat penting dilaksanakan oleh perusahaan dalam
pemasaran produk. Promosi merupakan penyampaian informasi dari penjual kepada
pembeli untuk mempengaruhi sikap dan tingkah laku. Sementara itu Kotler (2001:353)
mendefenisikan promosi adalah aktivitas menyampaikan manfaat produk dan
membujuk pelanggan membelinya. Oleh karena itu, promosi merupakan media
pemasaran yang digunakan prusahaan untuk memperkenalkan produk kepada konsumen
(calon pembeli). Dalam praktek promosi dapat dilakukan dengan berdasarkan pada
tujuan-tujuan diantaranya : (Swastha dan Irawan, 2001:353)
1) Modifikasi
tingkah laku
2) Memberitahu
3) Membujuk
4) Mengingatkan
G. Contoh Peran Pemasaran Dalam Dunia Usaha di Indonesia
1. Perang
Persepsi di Pasar Vitamin C
Sejak masuknya merek baru You C 1000 kepasar vitamin C memicu
persaingan. Masalahanya, bukan pada You C
1000 yang hadir dalam bentuk cair dan dikemas dalam botol tetapi pada
kandungan produknya. You C 1000
meningkatkan kandungan vitamin C-nya menjadi 1000 mg. Sedangkan selama ini
pasar viatmin C adalah 500 mg. Iklannya menggunakan product endoser si Miss
Universe 2005, Natalie Glebova yang mengatakan : “You C 1000, one thousand milligrams of vitamin C…… How many milligrams
do you have today?”. Pesan iklan ini ingin membentuk persepsi pasar bahwa kandungan vitamin yang baik
adalah 1000 mg. Bagaimana dengan pesaing yang lain? Redoxon Double Action diluncurkan dengan mengikuti kandungan vitamin
C 1000 mg. Iklannya memiliki pesan : “Redoxon………dengan
1000 mg vitamin C”. Melihat peluang pasar yang dibesarkan You C 1000,
Sidomuncul pun meluncurkan Sidomuncul
C1000 yang dikemas dalam sachet
dan di endosed oleh penyanyi kondang,
Ratu. Dalam iklannya Maia Ratu mengatakan : “Sidomuncul C, vitamin C-nya benar-benar 1000 mg……”. Bagaimana
dengan para pesaing yang memiliki kandungan vitamin C 500 mg? Salah satunya
adalah Holisticare EsterC. Iklan
Holisticare EsterC menekankan pentingnya vitamin yang aman bagi lambung. Pesan
dari iklan tersebut mengatakan : “Holisticare
EsterC, vitamin C yang aman bagi lambung… Holisticare, yang lain I don’t care”.
Iklan tersebut mencoba mempengaruhi persepsi konsumen bahwa vitamin C dengan
kandungan 1000 mg bisamerusak lambung (Istijanto, 2007:117).
2. Memiripkan
Merek Yang Populer
Merek
adalah aset marketing yang sangat berharga nilainya. Maklum, dibutuhkan dana
besar untuk investasi merek, mulai dari memperkenalkan merek (brand awareness) sampai merek itu
memiliki nilai yang tinggi (brand equity).
Untuk mencapai pada brand equity tentu tidak murah biayanya. Beberapa merek
mencoba “mempercepat” brand equity-nya dengan memiripkan merek terkenal. “Finto
dan Kola-kola” merupakan minuman serbuk plus penyejuk. Segmen pasarnya adalah
anak-anak. Yang paling unik desain mereknya mirip merek terkenal “Fanta dan Coca Cola”. Begitu juga dengan “Mari Sweat”. Minuman serbuk ini
memosisikan dirinya sebagai minuman pengganti ion yang hilang bersama keringat.
Desain merek dan bentuk hurufnya akan membawa ingatan konsumen pada “Pocari Sweat” (Istijanto, 2007:130).
H. Kesimpulan
Dari
beberapa teori dan dua contoh peran pemasaran diatas dapat ditarik kesimpulan
bahwa peran pemasaran sangat penting bagi dunia usaha di Indonesia Hal tersebut
terlihat dari dua contoh peran pemasaran yang telah dibahas diatas. Kedua
contoh peran pemasaran tersebut bertujuan agar produknya dapat diterima oleh
konsumen sehingga konsumen menjadi loyal terhadap produk yang telah dihasilkan
oleh perusahaan dan perusahaan mendapatkan untung dari loyalitas konsumen
tersebut. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Kotler (2008) bahwa hasil akhir
dari proses pemasaran adalah menangkap nilai dari pelanggan untuk menciptakan keuntungan
dan ekuitas pelanggan.
Daftar Pustaka
Assauri, Sofjan, 2010, Manajemen Pemasaran, Cetakan ke-10,
Rajawali Pers, Jakarta.
Basu, Swastha, 2002, Manajemen Pemasaran, Edisi Kedua,
Cetakan Kedelapan, Liberty, Jakarta.
, 2001, Manajemen Penjualan, Edisi ketiga, BPFE, Yogyakarta.
Basu, Swastha & Irawan, 2001, Saluran Pemasaran, Edisi Pertama, Cetakan Keenam, BPFE, Yogyakarta.
Hadait, Fiman, 2011, Analisa Strategi
Pemasaran Sepeda Motor Merek Yamaha Pada CV. Istana Motor Selat Panjang,
Skripsi, STIE Purna Graha, Pekanbaru.
Istijanto, 2007, 63 Kasus Pemasaran Terkini Indonesia, Elex Media Komputindo,
Jakarta.
Kotler, Philip & Amstrong, Garry,
2008, Principles of Marketing
(Terjemahan), Edisi-12, Erlangga,
Jakarta.
Kotler, Philip & Keller, Kevin Lane,
2009, Marketing Management (Terjemahan),
Edisi-12, Cetakan ke-IV, Indeks, Jakarta.
Lupiyoadi, Rambat & Hamdani, A.,
2009, Manajemen Pemasaran Jasa, Edisi
2, Salemba Empat, Jakarta.
Maryati, Wahyu Eni, 2001, Studi Penerapan Startegi Segmentasi Pasar,
Target Pasar, dan Penempatan Posisi Guna Peningkatan Jumlah Konsumen Pada Hotel
Kartika Wijaya Batu, Jurnal Optimumm, Vol 2 (1).
Radionsu, 2002, Manajemen Pemasaran, Liberty, Yogyakarta.
Langganan:
Komentar (Atom)