Selasa, 17 Juli 2012

KOMPENSASI YANG ADIL


 BAB I
PENDAHULUAN

Kompensasi merupakan segala sesuatu yang diterima para karyawan sebagai balas jasa untuk kerja mereka (Handoko, 2008:155). Kompensasi merupakan pertimbangan utama dalam manajemen sumber daya manusia, karena dengan kompensasi, karyawan diberikan hadiah yang nyata untuk layanan yang mereka berikan, serta sebagai sumber pengakuan dan mata pencaharian (Bohlander, 2004:386).  Secara umum kompensasi dapat dibedakan menjadi dua kategori yaitu kompensasi finansial dan non finansial.
Kompensasi finansial terdiri dari kompensasi langsung dan tidak langsung. Kompensasi langsung terdiri dari upah, gaji, bonus, atau komisi. Kompensasi tidak langsung terdiri dari semua pembayaran yang tidak tercakup dalam kompensasi finansial langsung seperti liburan, berbagai macam asuransi, jasa perawatan anak atau kepedulian keagamaan, dan sebagainya (Rivai, 2009:741). Sementara itu kompensasi non finansial meliputi program pengakuan karyawan, pekerjaan yang bermanfaat, dukungan organisasi, lingkungan kerja dan jam kerja yang fleksibel untuk mengakomodasi kebutuhan pribadi (Bohlander, 2004:386).
Program kompensasi yang efektif dalam sebuah organisasi memiliki empat tujuan (Mathis, 2011) :
1)      Kepatuhan pada hukum dan peraturan yang berlaku
2)      Efektivitas biaya bagi organisasi
3)      Keadilan Internal, eksternal, dan individual bagi para karyawan
4)      Peningkatan kinerja organisasi.
Pemberian kompensasi dalam suatu organisasi harus diatur sedemikian rupa sehingga merupakan sistem yang baik dalam organisasi (Notoatmodjo, 2009). Keadilan dalam pembayaran kompensasi sangat berhubungan erat dengan kepuasan kerja karyawan. Dengan keadilan pembayaran kompensasi pegawai akan merasa cukup dihargai sehingga hal tersebut dapat membuat pegawai cenderung bekerja lebih baik (Jackson, 2011:113).
Keadilan dalam pemberian kompensasi, baik itu gaji/upah, bonus, insentif, dan lain-lain dapat menimbulkan persepsi bisa membuat organisasi berjalan dengan baik. Begitu juga dengan sebaliknya organisasi/perusahaan dapat berjalan tidak baik apabila karyawan dalam perusahaan tersebut tidak memberikan  kompensasi secara adil. Hal tersebut dapat dilihat dengan adanya persepsi tentang perbedaan karyawan dalam memandang suatu pekerjaan. Sehingga ada istilah “posisi basah dan kering”. Padahal dalam sebuah organisasi setiap pekerjaan adalah penting karena apabila dalam suatu organisasi ada satu pekerjaan/jabatan tidak berjalan dengan baik maka kegiatan dalam organisasi./perusahaan akan terganggu.
Pemberian kompensasi dalam perusahaan atau organisasi juga sangat bergantung terhadap keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan tersebut. Terutama dalam hal pemberian bonus/insentif. Insentif adalah bentuk pembayaran yang dikaitkan dengan kinerja atau gainsharing, sebagai pembagian keuntungan bagi karyawan akibat peningkatan produktivitas atau penghematan biaya (Rivai, 2009:767). Hal tersebut yang membuat perusahaan harus berhati-hati dalam menentukan besar kecilnya pemberian insentif dalam perusahaan agar pemberian tersebut terlihat adil dan tidak menimbulkan persepsi yang tidak baik.
Dari penjelasan tersebut diatas maka timbul beberapa pertanyaan yang harus dibahas, yaitu : Bagaimanakah cara memberikan penghargaan/bonus kepada masing-masing kelompok jabatan, bila jumlah yang akan dibagikan sangat terbatas. Manakah yang didahulukan? Apakah nantinya tidak timbul rasa ”ketidak adilan” ? Lalu, bagaimanakah anda menggerakkan mereka semua?


BAB II
PEMBAHASAN

Pemberian insentif dengan cara adil merupakan daya penggerak yang dapat merangngsang terciptanya pemeliharaan karyawan. Karena dengan pemberian insentif karyawan merasa mendapat pengakuan dan perhatian terhadap prestasi yang dicapainya, sehingga semangat kerja dan sikap loyal karyawan akan lebih baik (Sujatmoko, 2007:8-9). Insentif merupakan sarana motivasi yang mendorong para pegawai untuk bekerja dengan kemampuan maksimum. Kompensasi dan insentif mempunyai hubungan yang erat, dimana insentif merupakan salah satu bagian dari kompensasi. Tujuan utama dari pemberian insentif adalah untuk memberikan tanggung jawab dan dorongan kepada karyawan dalam rangka meningkatkan kualitas dn kuantitas hasil kerja (Rivai, 2009:767).
Insentif sendiri didefinisikan sebagai salah satu bentuk rangsangan atau motivasi yang sengaja diberikan kepada pegawai untuk mendorong semangat kerja pegawai agar mereka bekerja lebih produktif lagi, meningkatkan prestasinya dalam mencapai tujuan perusahaan (Sujatmoko, 2007:9). Pada dasarnya terdapat dua jenis insentif yang umum diberikan oleh perusahaan, seperti yang diuraikan oleh Sarwoto dalam Sujatmoko (2007:9-10) yaitu :
1)      Insentif finansial
Insentif financial merupakan insentif  yang diberikan kepada karyawan atas hasil kerja mereka dan biasanya diberikan dalam bentuk uang berupa bonus, komisi, pembagian laba, dan kompensasi yang ditangguhkan, serta dalam bentuk jaminan sosial, berupa pemberian rumah dinas, tunjangan lembur, tunjangan kesehatan, dan tunjangan-tunjangan lainnya.  
2)      Insentif non finansial
Insentif non finansial dapat diberikan dalam berbagai bentuk, antara lain :
a)       Pemberian piagam penghargaan
b)      Pemberian pujian lisan ataupun tertulis, secara resmi ataupun pribadi
c)       Ucapan terima kasih secara formal maupun informal
d)      Promosi jabatan kepada karyawan yang baik selama masa tertentu serta dianggap mampu
e)       Pemberian tanda jasa/medali kepada karyawan yang telah mencapai masa kerja yang cukup lama dan mempunyai loyalitas yang tinggi
f)       Pemberian hak untuk menggunakan suatu atribut (misalnya mobil atau sebagainya)
g)      Pemberian perlengkapan khusus pada ruangan kerja.
Pembayaran insentif biasanya dilakukan dengan tiga cara : insentif individu, insentif tim, bagi hasil dan pembagian keuntungan. Insentif individu adalah salah satu bentuk pembayaran insentif yang paling tua dan paling popular. Pemberian insentif individu dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu (Jackson,2011:194) :
1)      Pemberian insentif berdasarkan hasil, pemberian insentif berdasarkan hasil dapat dilakukan dengan dua cara :
a)       Straigh piecework, para pegawai diberikan jaminan untuk menerima angka insentif standar untuk setiap unit. Angka insentif standar didasarkan pada hasil kerja standard dan angka insentif dasar. Misalnya, jika gaji pokok suatu pekerjaan adalah $ 80 per hari dan seorang pegawai wajarnya memproduksi 20 unit per harinya, maka standar angka dapat ditentukan pada $ 4 per unit.
b)      Differential piece rate, lebih dari satu angka upah hasil kerja ditentukan bagi pekerjaan yang sama. Angka-angka hasil kerja yang berbeda biasanya dirancang untuk memberikan insentif terhadap hasil kerja yang melampaui tingkat permulaan yang telah ditetapkan. Misalnya, para pegawai dapat memperoleh $ 4 per hasil kerja dengan menghasilkan lima atau lebih hasil kerja per jamnya. Jika pegawai hanya mampu menyelesaikan empat hasil kerja per jamnya maka pegawai tersebut hanya menerima insentif sebesar $ 3,50.
2)      Pemberian insentif berdasarkan waktu kerja, yaitu menentukan waktu standar untuk setiap unit produksi dan menggunakan waktu standar ini untuk menentukan besarnya insentif yang akan diberikan kepada pegawai.  Tugas dibagi berdasarkan lamanya waktu yang dihabiskan untuk mengerjakan tugas tersebut yang dapat ditentukan oleh catatan pekerjaan, analisis kerja atau keduanya. Waktu yang wajar dalam mengerjakan setiap tugas akan dijadikan waktu standar. Para pegawai dibayar atas waktu yang wajar dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu tugas, dan bukan waktu yang sebenarnya digunakan.
Dengan pendekatan ini, standar kinerja individu ditentukan dan diinformasikan dari awal, serta penghargaan didasarkan pada hasil kinerja individu (Jackson, 2011:192). Didalam memberikan insentif tersebut dilakukan pengukuran kinerja yang meliputi, pengukuran produksi, penjualan, kualitas, pelayanan pelanggan dan inovasi. Pengukuran tersebut dilakukan berdasarkan jenis pekerjaan.
Dengan pemberian insentif berdasarkan pengukuran kinerja maka perusahaan berusaha melakukan pembayaran insentif secara adil karena pemberian insentif didasarkan atas hasil kinerja inidvidu yang telah diberikan oleh pegawai. Karena banyak sedikitnya insentif yang akan dibayarkan tergantung pada kinerja pegawai tersebut. Apabila kinerja pegawai baik maka bisa saja dalam satu departemen antara pegawai yang satu dengan yang lain mendapatkan insentif yang berbeda karena hasil kerja yang satu berbeda dengan yang lain. Hal tersebut juga bisa dapat memebrikan dorngan atau motivasi terhadap pegawai dalam melakukan pekerjaan. Dengan termotivasinya pegawai dalam melaksanakan pekerjaan maka produktivitas organisasi akan meningkat dan selanjutnya akan meningkatkan kinerja perusahaan secara keseluruhan.


BAB III
PENUTUP

Kompensasi merupakan pertimbangan utama dalam manajemen sumber daya manusia, karena dengan kompensasi, karyawan diberikan hadiah yang nyata untuk layanan yang mereka berikan, serta sebagai sumber pengakuan dan mata pencaharian (Bohlander, 2004:386). Pemberian insentif merupakan salah satu komponen dari kompensasi. Pemberian insentif sendiri bertujuan agar dapat mendorong motivasi pegawai dalam melaksanakan pekerjaan agar pekerjaan tersebut dapat dilaksankan dengan maksimal. Agar terdistribusi dengan baik maka insentif yang diberikan oleh perusahaan kepada pegawai harus bersifat adil. Salah satu cara agar pemberian insentif dapat berjalan secara adil dapat dilakukan dengan cara pemberian insentif berdasarkan kinerja individu, karena pemberian insentif tersebut diberikan berdasarkan kualitas maupun kuantitas hasil kerja yang pegawai kerjakan. Hal tersebut sesuai dengan konsep keadilan (equity) menurut Mathis (2011:430) yaitu keadilan yang dirasa berasal apa yang dilakukan seseorang (input) dan apa yang diterima oleh orang tersebut (output).


Daftar Pustaka

Bohlander, George & Scott Snell, 2004, Managing Human Resouces 13e, South-Western : Thomson Corporation.

Handoko, T. Hani, 2008, Manajemen Personalia & Sumber Daya Manusia, Yogyakarta : BPFE.

Jackson, Susan E, Randall S. Schuler, Steve Werner, 2011, Pengelolaan Sumber Daya Manusia, Edisi Kesepuluh (Terjemahan), Salemba Empat, Jakarta.

Notoatmodjo, Soekidjo, 2009, Pengembangan Sumber Daya Manusia, Rineka Cipta, Jakarta.

Rivai, Veithzal, Ella Jauvani Sagala, 2009, Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Perusahaan : Dari Teori ke Praktek, Jakarta : Rajawali Pers.

Sujatmoko, Koko, 2007, Pengaruh Insentif Terhadap Peningkatan Prestasi Kerja Karyawan Pada Departemen Operasional Pemasaran Dunkin Donuts Cabang Arteri Jakarta, Karya Ilmiah : USU Medan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar